
Sebagai negara mayoritas penduduk muslim, sudah barang tentu Idul Fitri adalah momen yang cukup definitif dalam budaya Indonesia. Sehingga makna Lebaran tidak hanya tertambat pada prosesi-reliji belaka, namun juga kultural-tradisional. Mel Ahyar,
sebagai seorang seniman, has never released a collection if she doesn’t have anything to say. Wastra merupakan pakaian kebanggaan momen-momen penting budaya, sebagaimana Idul Fitri juga merupakan hari raya terpenting dalam agama Islam. Maka Mel berkesimpulan, penggunaan Wastra di Hari Raya adalah niscaya. “Apalagi kalau kita perhatikan, banyak sekali unsur-unsur Lebaran yang merupakan asimilasi dan akulturasi dengan budaya lokal,” ujar Creative Director Brand Mel Ahyar dan MMAC ini.
Secara umum, budaya merupakan sebuah penafsiran–upaya manusia untuk making sense of the teachings and their surroundings. Dalam konteks Lebaran sebagai hari raya Islam, ajaran Alquran dan Hadits dikontekstualisasikan ulang melalui berbagai ritual Idul Fitri. Chief Executive Officer MMAC Arie Panca mencontohkan Sunnah Rasulullah SAW untuk mengenakan pakaian terbaik menjadi tradisi baju baru, serta berkunjung ke keluarga yang dituakan sebagai norma ketimuran. Tak kalah unik adalah mudik. “Kita sekilas sih melihatnya kumpul sama keluarga saja ya. Tapi sebenarnya itu kan produk fenomena urbanisasi. Kenapa membludak yang merantau ke kota? Akibat faktor sosial, geografis, ekonomi, wah lebih rumit lagi kalau kita teruskan.”


Selaksa Raya Nusantara, adalah sebentuk tafsir dari Mel Ahyar yang tersampir melalui koleksi Raya perdananya. Kali ini giliran Tenun Bulu Garut dan Tenun Sengkang Wajo yang ditampilkan. Keduanya sama-sama memiliki warna cerah, sebagai cermin festivity nan fitri. Aksen 3D Tenun Bulu Garut berbahan sutra diaplikasikan di atas kain organdi yang ringan dan translucent guna merangkum perasaan halus, ringan, dan bahagia khas Hari Raya. Tenun Bulu Garut juga dipilih karena keunikan asal-usulnya sebagai Wastra hasil didikan Naito, mantan tentara Jepang pasca kemerdekaan Indonesia. Keahliannya memintal sutra diajarkan kepada masyarakat lokal hingga berkembang seperti sekarang. Naito kemudian diketahui memeluk agama Islam dan berganti nama menjadi Muhammad Kurdi pada 1954. Setelah menjelaskan hal ini, dengan riang Mel berujar, “See? It’s never a dull moment exploring Wastra, ya?”
Tak kalah unik adalah Tenun Bugis atau Lipa Sabbe dalam bahasa lokal asal Sulawesi Selatan. Sabbe atau sutra tenun Bugis memiliki keunikan tersendiri karena dihasilkan dari ngengat sutra endemik Sulawesi (Antheraea celebensis). Mel memilih motif pucuk barong yang runcing dan motif labba kotak bergaris untuk koleksi kali ini. Warna-warninya nan rancak dengan motif timbul permukaan diharapkan Mel sebanding dengan dampak kebaikan Ramadan yang menampak dalam perilaku kita sehari-hari. Hal ini juga diamini oleh Arie, “Semoga Idul Fitri kali ini dapat membawa hasil selama sebelas bulan ke depan, setelah kita ditempa Ramadan selama satu bulan,” tutup Arie mengakhiri obrolan.

Selaksa Raya Nusantara, 2025
