Mel Ahyar Archipelago : Gumi Paer

Brand Mel Ahyar kembali melanjutkan ‘penjelajahan’-nya dalam upaya mengangkat Wastra Nusantara. Kali ini giliran suku Sasak dari Nusa Tenggara Barat yang menginspirasi kreativitas Mel untuk melahirkan karya terbaru dari koleksi Mel Ahyar ARCHIPELAGO, yang akan ditampilkan dalam gelaran #FEKDIxKKI2024 pada 2 Agustus 2024 bertempat di Jakarta Convention Center.

Tak hanya meneliti teknik tenun, kali ini Mel Ahyar menemukan sehelai kain tenun Lombok mengandung bukti filosofis bahwa alam memberi ilmu dan bumi mencukupi. Terlihat pada inspirasi motif dari benda-benda alam, benang dan pewarna dari tumbuh-tumbuhan alami, ditenun oleh wanita dengan sifat feminin yang membumi. Motif-motif alam terlihat dalam interpretasi kreatif matahari, bulan, kepiting, anak ayam, bunga teratai, burung merak, segi enam sarang lebah, dan masih banyak lagi. Konsep feminitas dalam bumi memang tidak asing lagi sebagai sebutan ibu pertiwi dan mother nature. Uniknya, suku Sasak juga mengenal filosofi gumi nine (bahasa Sasak: bumi perempuan) yang menunjukkan peran vital wanita Sasak.

Menenun kain hanya boleh dilakukan oleh wanita. Uniknya lagi, keterampilan menenun merupakan rite of passage bagi wanita Sasak. Mereka harus dapat menenun tiga helai kain terlebih dahulu sebelum dianggap cukup dewasa untuk menikah: untuk dirinya, suaminya, dan mertua perempuannya. Hal ini tak mengherankan karena kain Tenun Lombok hadir di setiap fase kehidupan masyarakat Sasak, mulai dari membungkus bayi yang baru dilahirkan hingga menjadi bagian prosesi pemakaman.

Sementara secara teknis, tenun Lombok juga memiliki kompleksitas tersendiri. pewarna kain bahan alami; motif yang terinspirasi dari alam, serta pemilihan warna terinspirasi lingkungan sekitar. Unsur teknis dan nonteknis ini tak ubahnya awor warne (pencampuran warna) berbagai elemen budaya yang tertuang dalam sehelai kain tenun. Menurut CEO Maison MAC Arie Panca yang menaungi brand Mel Ahyar, tenun Lombok bisa dikatakan bernilai lebih dari Wastra. “Selama ini kita pikir yang disebut hasil bumi itu kan hasil tambang, gas, logam, mineral. Padahal menurut kami, tenun Lombok dengan segala kearifan lokalnya adalah ‘hasil bumi’. Bagaimana semua elemennya–termasuk para penenun–terlahir dari apa yang sudah disediakan bumi untuk kita.” 

Sudut pandang ini hampir mirip dengan suku Sasak yang menyebut bumi sebagai gumi paer. Gumi paer tidak berarti bumi secara geografis dan kosmologis saja, tapi termasuk masyarakat Sasak sebagai komunitas terikat secara spiritual dengan alam lingkungannya sebagai sebuah kesadaran sosiologis. Creative Director Maison MAC Mel Ahyar mengaku mendapat pengalaman menggetarkan. “Bayangkan, ketika dihadapkan pada kerumitan motif, masyarakat Sasak berdzikir tanpa henti memohon tuntunan Tuhan–sepanjang proses menenun yang memakan waktu berminggu-minggu. Berarti energi yang terkandung dalam tiap helai benangnya penuh dengan muatan nama suci Tuhan. Sependek yang saya temui, budaya lain elemen ketuhanannya cenderung lebih implisit, tapi masyarakat sasak bahkan lafadz dzikir itu sendiri dijadikan penamaan motif,” kata Mel menceritakan motif favoritnya, Subahnale yang berasal dari lafadz subhanallah (Maha Suci Allah).

Tak hanya itu, dalam koleksi Mel Ahyar ARCHIPELAGO Gumi Paer kali ini, Mel memilih palet warna di luar comfort zone-nya. “Waktu saya ke Lombok bulan Agustus itu, hamparan padang rumputnya berwarna kuning-keemasan. Indah sekali. Kata warga sekitar memang seperti itu kalau musim kemarau. Saya pikir, wah beruntung sekali masyarakat Lombok ini. Saat musim kering dan panas membakar pun, Tuhan masih anugerahkan mereka keindahan,” urai Mel dengan tatapan menerawang mengenang panorama Bukit Merese, Tanjung Aan yang dilihatnya.

Sebanyak total 15 look dibawakan brand Mel Ahyar dalam koleksi Mel Ahyar ARCHIPELAGO “Gumi Paer” menggunakan bahan baku kain tenun Lombok produksi UMKM binaan Bank Indonesia. Kali ini Mel Ahyar tidak menghadirkan warna-warni yang mencolok, namun tetap mengusung twisted beauty dan permainan detail yang rumit. Salah satu yang menarik perhatian adalah inspirasi baju lambung wanita Sasak yang cropped dan oversized, dengan lempot (selempang tenun) tersampir di kedua bahu menjulur ke dada. Tak terlihat potongan maxi dalam koleksi ini, menyesuaikan dengan aktivitas wanita Sasak yang didominasi beternak sehingga panjang busana diciptakan Mel hanya semata kaki. Seluruh looks ini dipercantik oleh ragam aksesori bros, gelang, dan tusuk sanggul dari Lamops–yang juga brand UMKM binaan Bank Indonesia.

Melalui koleksi Gumi Paer ini, Mel melanjutkan komitmennya untuk mengakselerasi dan mengintensifkan eksplorasinya terhadap Wastra Indonesia Timur. “Target saya memang ingin mendalami Wastra seluruh penjuru Indonesia. Tapi pesona tenun Lombok ini membuat saya akan menyegerakan pendalaman wilayah timur.” Sementara Arie berharap Mel Ahyar ARCHIPELAGO “Gumi Paer” dapat meningkatkan atensi publik kepada keindahan budaya Lombok. “Dari segi wisata alam alhamdulillah Nusa Tenggara Barat sudah jauh lebih terangkat. Semoga di saat yang bersamaan, keindahan budayanya juga mendapat spotlight. Because they deserve it.” pungkas Arie.

Leave a Reply