UNDER THE SKIN

A men’s style is their looking glass. It’s how they look at themselves and how they want to be looked at. Their fashion goes far under the skin.

A men’s style is their looking glass. It’s how they look at themselves and how they want to be looked at. Style seseorang sebenarnya mencerminkan bagaimana cara dia memandang dunia dan bagaimana dia ingin dunia memandang dirinya. Their fashion goes far under the skin. Sadar-tak sadar, pilihan gaya busana selalu mencerminkan kepribadian seseorang. Sebagaimana dijelaskan Miranda Priestly (Meryl Streep) dalam The Devil Wears Prada (2006), cerulean blue sweater yang dikenakan Andy Sachs (Anne Hathaway) dengan acuh tak acuh melalui proses panjang secara industri maupun identifikasi diri hingga tiba di dalam lemari. Kali ini, lini besutan rumah mode Maison MAC akan mengeksplorasi a multi-faceted masculinity di balik gaya berbusana pria dalam koleksi Under The Skin.

Creative Director Maison MAC Mel Ahyar mengamati pergeseran ini dengan selama bertahun-tahun secara jeli. “Kayaknya dulu cowok tuh patokan fashionnya justru harus yang effortless jangan kelihatan ‘usaha’, ga usah detail-detail tuh udah cukup.” Jika dulu pria yang terlihat menghabiskan banyak porsi pikiran dan perhatiannya pada penampilan merasa risih, menurut Mel, kini pemikiran semacam inilah yang justru tersisih. Dulu, pria masih malu-malu menisbatkan kejantanannya dengan berbusana secara strategis, namun kini justru mereka kian bangga mengeksplorasi beragam gaya. Salah satu contoh wajah maskulinitas masa kini adalah bangga menunjukkan dirinya being at the pulse of the mode–sebagaimana terlihat dari gaya khas ‘pria skena’. Seleranya dibangun di atas individualisme tinggi sehingga tampak eksentrik. Mereka bahkan berani ‘main mata’ dengan beberapa unsur feminin seperti riasan wajah, aksesori yang agak girly, dan lain-lain. Mel menerjemahkan taste ‘anak skena’ secara nyentrik dan maksimalis. Contohnya dalam siluet serba gombrong (oversized), celana setengah betis (jorts), atasan boxy crop, dan aksesori pelengkapnya seperti carabiner, sapu tangan dan tas selempang. 

At the other side of the coin, ketika tren fashion selalu berpacu cepat dan menjalar secara masif, ada setapak jalan sunyi dari senarai seruling tradisi nun jauh dari riuh-rendah laju teknologi juga menarik bagi jiwa-jiwa lelaki. Jika gaya skena cenderung mereka gemar menonjolkan individualitas dirinya pada barang collectible. They pride themselves in the value of the search, apalagi pada simbolisme serta makna yang terkandung di dalamnya. Gairah berbusana para ‘pria wastra’ terletak pada bagaimana mereka put a creative spin pada kain tradisional yang kekunoan menjadi kekinian. Untuk gaya ini, tangan dingin Mel Ahyar sudah tak diragukan lagi dalam menyihir wastra tradisional Nusantara ke dalam desain-desain kontemporer. It’s her jam. 

Namun, terbentuknya gaya berbusana pria bisa jadi tidak melulu tentang vanity. Ada beberapa gaya yang tercipta dari helai-untai kepribadian, yang kemudian memunculkan ketertarikan pada visual-estetika tertentu yang mereka anggap mampu merangkum sosok dirinya kepada dunia. Segelintir pria merasa tidak menemukan dirinya dalam machismo hiper-maskulinitas hasil konstruksi sosial yang agresif, dominan, ambisius, dan egois. ‘Pria softboi’ cenderung sensitif, tutur katanya lembut, dan sangat in-touch dengan perasaannya. Tipikal kepribadian inilah yang membuat mereka akhirnya nyaman mengenakan busana berwarna netral, bahan-bahan yang ‘jatuh’ di tubuh, atau comfy fashion item seperti cardigan dan turtleneck. Karakter ini menjelma dalam koleksi Under The Skin dengan gaya yang clean layering vest dan cardigan seraya menyandang tote bag. Untungnya, pria softboi sekarang sudah tampil berwarna di luar zona nyaman beige, khaki, putih dan hitam.

Namun yang tak kalah unik dalam gaya pria adalah style yang diciptakan oleh tuntutan fungsi. Namun ‘pria petualang’ memang punya selera. Pria petualang banyak beraktivitas di luar ruangan dalam waktu lama serta dekat dengan kondisi ekstrem survival. Sehingga mereka memandang busana sebagai armor proteksi diri. Mel Ahyar membayangkan ragam aktivitas petualangan sehingga Mel mendesain based on their needs: bahan yang tahan banting, memiliki banyak kantong untuk berbagai trinkets, dengan unsur-unsur protektif seperti hoodie. Founder & CEO Maison MAC Arie Panca berujar, “Kayaknya tuh jiwa petualang itu nempel banget sampe sehari-hari ngantor juga suka pake outfit yang agak tactical gini,” ujar pria yang hobi mendaki gunung ini menunjukkan celana kargo yang ia kenakan.

Tak kalah unik adalah gaya yang lahir dari kompleksitas sosio-ekonomi dan strata kelas yang demikian berkelindan tak ubahnya helaian benang yang terpintal menjadi sepotong busana itu sendiri. Istilah gaya old money yang sedang tren lahir dari kejumudan akan counterfeit items, apalagi akses terhadap barang branded yang kian terbuka untuk semua orang. Sehingga banyak fashion enthusiasts mendambakan gaya old money sebagai kemewahan sejati. Gaya ini dicirikan dengan tailored fit, warna-warna netral, sophistication, serta pemilihan busana yang timeless dan elegan. Gaya ‘pria old money’ lahir dari generational wealth, sehingga mereka tidak memiliki mindset tren atau mode dalam benaknya, namun sesuatu yang dapat diwariskan dari generasi ke generasi. Selain itu, karena lahir dikelilingi kekayaan, mereka tidak tertarik lagi dengan pembuktian diri atau nilai simbolis dari kemewahan seperti logogram, warna-warna mencolok, dan sebagainya. Mereka berbusana untuk blending in secara minimalis di kalangan terbatas mereka. Under The Skin mencoba merangkum esensi kompleks ini dalam clean cutting, bespoke fit, dalam warna hitam, krem, cokelat, dan baby blue. Aksesoris tampil bukan sebagai statement, melainkan sekadar pemanis. 

Mel Ahyar mencoba merangkum kelima fasad maskulinitas ini melalui koleksi Under The Skin dari XY. “Melalui Under The Skin, aku coba menggali proses rumit yang berjalan di balik kenapa kita suka gaya itu atau kenapa kita memilih baju itu. Dan pendalamannya lumayan panjang, sampai harus menyelami sisi psikis pria bagaimana terbentuknya persepsi, dikaitin lagi sama fenomena sosial yang terjadi belakangan ini,” urai Mel. Lebih lanjut, Arie berharap melalui koleksi ini, Maison MAC dapat menunjukkan konsistensinya untuk merilis produk seni yang memiliki nilai-nilai mendalam. “Seperti yang sudah disampaikan Mel tadi–bahwa fashion in general, khususnya karya-karya Maison MAC–itu punya value yang dari sekadar berpakaian dengan pantas atau enak dilihat. Tapi juga memotret sisi humanis di dalamnya,” pungkas Arie mengakhiri percakapan. 

Under The Skin, 2024

Leave a Reply