Bicara Hari Raya, ingatan kita langsung tertuju pada budaya-budaya negara Islam seperti di Jazirah Arab atau Afrika Utara (Mesir, Maroko). Tidak salah memang, karena mereka punya historis kerasulan yang panjang, yang masih jadi rujukan kita beragama hingga hari ini. Namun sebenarnya, secara konteks kebudayaan, bukankah Indonesia lebih dekat kepada negara Asia lainnya? “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13). Ayat ini secara implisit mengajarkan kita untuk mempelajari nilai-nilai di tempat-tempat asing untuk memperkaya khazanah hikmah dalam diri. Maka kali ini, Happa menarik inspirasi dari salah satu peradaban budaya Asia terkuno, di Negeri Matahari Terbit.

Creative Director Brand Happa dan MMAC Mel Ahyar mendapati hal yang menarik dalam riset koleksi Lebaran-nya. Mel menemukan kesamaan antara teknik sashiko dengan efek gemblengan Ramadan pada jiwa manusia. Teknik sashiko digunakan pada Zaman Edo untuk menambal pakaian usang secara dekoratif dengan tusukan-tusukan kecil. Uniknya, tambalan dan kerusakannya tetap terlihat jelas dan tidak disembunyikan. Hasilnya begitu kaya dan indah. Kainnya pun akan lebih kuat dan tahan lama. “Aku merasa, ini sama seperti tempaan Ramadan: lapar, haus, dan sabar, yang sifatnya merupakan penguat serta obat bagi berbagai penyakit hati,” ujar Mel.
Melalui ‘tusukan-tusukan kecil’ inilah, niscaya fitrah hakiki diri akan kembali bersinar. Mencuat setelah olah jiwa selama sebulan amanya. Meski mungkin hasilnya belum bersih benar. Karena proses pembersihan jiwa tidak dapat rampung secara serta-merta. Tak ubahnya komorebi, sinar matahari yang meresap melalui celah-celah kerapatan pepohonan bagaikan puisi alam. Mel Ahyar menerjemahkannya ke dalam koleksi yang banyak memainkan efek gelembung nan mengalir. “Aku coba sisipkan harapanku dengan cara aku balik konsep komorebi-nya. Jadi bukan cahaya yang terselip di antara dedaunan, tapi dedaunannya yang seolah-olah meningkahi putih cahaya,” papar Mel. Chief Executive Officer MMAC Arie Panca menambahkan, “Ini kita coba ambil juga dari analogi kalau Idul Fitri, kita akan kembali seperti bayi yang baru lahir. Jadi kesucian tersebut kita tuangkan dalam bahan dasar dominan putih.”


Bordir dan cutting yang ditampilkan sekilas tampak abstrak bahkan cenderung sumir. Terlihat peletakannya asimetris, miring, bahkan unfinished. Menurut Mel, ini sama dengan perjalanan spiritual manusia yang tak dapat ditakar maupun diukur. Sebagaimana kita banyak mendengar hikayat alim ulama yang tergelincir berbuat khilaf ataupun pendosa yang berhati mulia. “We have to give the best of ourselves karena kita benar-benar nggak bisa tahu amalan mana yang akan mengantar kita ke surga, serta khilaf mana yang menjerumuskan kita,” ujar Mel.
Arie berharap Komorebi dapat menjadi salah satu wearable, yet contemplative art yang kian menambah dalam makna Idul Fitri bagi penggunanya. Apalagi nuansa Hari Raya terasa lebih riuh dan hingar-bingar dalam beberapa tahun terakhir. “Semoga melalui koleksi ini, tidak hanya estetika saja yang menonjol di Hari Raya tapi juga refleksi diri,” tutup Arie.Komorebi
Komorebi, Happa Raya 2025
